
Itik Alabio
Itik Alabio adalah salah satu ras unggas lokal unggulan asli Indonesia yang berasal dari daerah Alabio, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Itik ini merupakan primadona di kalangan peternak karena dikenal sebagai itik dwiguna (penghasil telur dan daging) yang memiliki produktivitas sangat tinggi. Berikut adalah karakteristik dan penjelasan lengkap mengenai Itik Alabio: 1. Asal Usul Nama Itik Alabio pertama kali diberikan oleh seorang ilmuwan bernama Dr. Saleh Puspo pada tahun 1950-an. Itik ini diduga merupakan hasil persilangan alami antara itik lokal Kalimantan dengan itik Peking yang dibawa oleh para pedagang Tiongkok pada masa lampau, yang kemudian beradaptasi kuat dengan lingkungan rawa di Kalimantan. 2. Ciri-Ciri Fisik Warna Bulu: Memiliki corak warna yang khas, yaitu cokelat dengan bintik-bintik putih di sekujur tubuhnya. Tanda Khusus: Terdapat garis putih yang mencolok menyerupai "alis" di bagian atas matanya, baik pada jantan maupun betina. Fisik Jantan vs Betina: Itik jantan cenderung memiliki warna bulu yang lebih gelap dengan beberapa helai bulu ekor yang melengkung ke atas. Sementara betina berwarna lebih terang. Paruh dan Kaki: Berwarna kuning terang hingga jingga. Postur Tubuh: Tegap, meruncing ke atas (berbentuk seperti botol), dan relatif ramping, yang merupakan ciri khas unggas petelur yang baik. 3. Keunggulan dan Produktivitas Produksi Telur Tinggi: Ini adalah keunggulan utamanya. Itik Alabio betina mampu menghasilkan telur antara **220 hingga 250 butir per tahun**, jauh di atas rata-rata itik lokal biasa. Kualitas Telur: Ukuran telurnya relatif besar (sekitar 58–65 gram per butir) dengan kuning telur yang berwarna lebih oranye kemerahan dan rasanya gurih. Pertumbuhan Cepat: Sebagai pedaging, itik jantan memiliki laju pertumbuhan yang cepat sehingga sering dipanen dagingnya pada usia muda (itik potong). Daya Tahan Kuat: Sangat adaptif terhadap penyakit dan lingkungan yang kurang menguntungkan, terutama lingkungan lahan basah. 4. Habitat dan Pemeliharaan Di daerah asalnya, itik ini dipelihara di ekosistem rawa-rawa lebak. Peternak tradisional di Kalimantan Selatan sering menggunakan sistem pemeliharaan "lanting" (kandang terapung di atas sungai atau rawa). Namun, saat ini Itik Alabio juga sangat bisa beradaptasi dan berproduksi optimal di kandang-kandang intensif sistem kering di berbagai daerah lain di Indonesia. Karena nilai ekonomis dan genetiknya yang tinggi, Itik Alabio menjadi salah satu plasma nutfah (sumber daya genetik) ternak Indonesia yang terus dijaga dan dikembangkan kemurniannya oleh balai-balai pembibitan ternak pemerintah maupun peternak lokal.